Halo, Avenewers! Scaling agile perusahaan besar Indonesia menjadi topik yang semakin sering dibicarakan seiring makin banyaknya BUMN, perusahaan energi, dan organisasi infrastruktur yang ingin mempercepat time to value dari inisiatif strategisnya. Banyak yang percaya bahwa cukup mengadopsi satu framework populer, semua tim akan otomatis lebih lincah dan responsif. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Scaling agile di level enterprise adalah persoalan yang jauh lebih kompleks dibanding menerapkan Scrum di satu tim kecil, karena menyentuh struktur organisasi, governance, budaya kerja, hingga cara perusahaan mengelola portofolio proyek secara keseluruhan.

Artikel ini akan mengupas mengapa scaling agile di perusahaan besar memerlukan pendekatan yang berbeda, framework apa saja yang terbukti bekerja di konteks Indonesia, dan mengapa tidak semua organisasi bisa langsung mengadopsinya tanpa persiapan yang matang.

Mengapa Scaling Agile di Perusahaan Besar Berbeda dari Level Tim

Mengapa Scaling Agile di Perusahaan Besar Berbeda dari Level Tim

Scaling agile pada dasarnya adalah upaya memperluas prinsip dan praktik agile dari satu tim ke banyak tim, divisi, bahkan seluruh organisasi. Perusahaan besar umumnya memiliki struktur hierarkis, reporting line yang panjang, serta ketergantungan antar unit bisnis yang tinggi. Kondisi ini membuat penerapan agile tidak bisa hanya mengandalkan sprint planning dan daily stand up di level tim.

Perusahaan besar Indonesia, terutama yang bergerak di sektor energi dan infrastruktur, umumnya menjalankan proyek dengan ketergantungan tinggi antar unit, siklus anggaran tahunan, serta regulasi yang ketat. Scaling agile di lingkungan seperti ini menuntut keselarasan antara kecepatan eksekusi tim dan kebutuhan governance di level portofolio. Di sinilah pendekatan project-driven organizational capability menjadi relevan, karena persoalan sesungguhnya bukan hanya soal metodologi kerja tim, melainkan bagaimana organisasi secara keseluruhan mampu mengeksekusi strategi melalui proyek secara konsisten.

Baca juga: Agile Governance dalam PMO, Menjaga Akuntabilitas dan Kecepatan

Tantangan Struktural yang Sering Menghambat Scaling Agile

Tantangan scaling agile perusahaan besar Indonesia umumnya muncul dari tiga sisi sekaligus: struktur, budaya, dan kapabilitas. Struktur organisasi yang masih berbasis fungsi (functional silo) sering membuat tim lintas divisi kesulitan berkolaborasi secara cepat. Budaya kerja yang terbiasa dengan pendekatan komando dan kendali (command and control) juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan pola kerja yang lebih kolaboratif dan iteratif.

Kapabilitas individu dan tim menjadi tantangan berikutnya. Banyak profesional memahami konsep agile secara teoritis, namun belum terbiasa menerapkannya dalam konteks proyek berskala besar dengan banyak stakeholder. Ketimpangan pemahaman inilah yang sering membuat inisiatif transformation berhenti di tengah jalan, bukan karena framework yang dipilih salah, melainkan karena kesiapan organisasi belum memadai.

Tabel berikut merangkum tiga tantangan utama beserta dampaknya terhadap eksekusi proyek.

Tantangan

Dampak pada Eksekusi

Struktur fungsional yang kaku

Koordinasi antar tim menjadi lambat dan berlapis

Budaya command and control

Tim kurang berani mengambil keputusan cepat

Kapabilitas agile yang tidak merata

Implementasi berjalan setengah hati dan tidak konsisten


Baca juga: Agile Bukan Milik Tim IT Saja, Cara Menerapkan Prinsip Agile pada Proyek Infrastruktur dan Industri

Framework Scaling Agile yang Terbukti Bekerja

Framework Scaling Agile yang Terbukti Bekerja

Ada beberapa framework scaling agile yang umum digunakan perusahaan besar di dunia, dan masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. SAFe (Scaled Agile Framework) banyak dipilih perusahaan dengan struktur besar dan kebutuhan governance yang kuat, karena menyediakan lapisan koordinasi mulai dari tim hingga portofolio. LeSS (Large Scale Scrum) lebih cocok untuk organisasi yang ingin menjaga kesederhanaan Scrum sembari memperluas cakupannya ke banyak tim. Sementara itu, model Spotify lebih menekankan otonomi tim melalui struktur squad, tribe, chapter, dan guild, yang cocok untuk organisasi dengan budaya kolaboratif yang sudah cukup matang.

Pemilihan framework yang tepat sebaiknya tidak dilakukan secara instan tanpa asesmen menyeluruh terhadap struktur dan budaya organisasi. Pendekatan konsultasi Avenew Indonesia dalam mendampingi transformasi kapabilitas organisasi selalu diawali dengan pemetaan kesiapan ini, sebelum menentukan model scaling yang paling sesuai dengan karakteristik perusahaan.

Mengapa Tidak Semua Perusahaan Bisa Langsung Menerapkan Scaling Agile

Kesiapan organisasi adalah faktor penentu keberhasilan scaling agile yang sering diabaikan. Perusahaan yang memaksakan adopsi framework tanpa mempertimbangkan tingkat kematangan project management-nya cenderung mengalami resistensi internal, kebingungan peran, dan hasil yang tidak sesuai ekspektasi.

Kesiapan ini bisa dilihat dari beberapa dimensi, di antaranya kematangan proses manajemen proyek yang sudah berjalan, tingkat pemahaman leadership terhadap prinsip agile, serta ketersediaan talenta yang memiliki sertifikasi dan pengalaman relevan seperti PMP, PMI-ACP, atau Scrum. Riset yang dipublikasikan melalui JPMR (Journal of Project Management Research) turut menegaskan bahwa transformasi kapabilitas organisasi berjalan lebih efektif ketika didukung oleh fondasi berbasis bukti, bukan sekadar mengikuti tren industri.

Perusahaan yang belum memiliki fondasi governance proyek yang solid sebaiknya membangun terlebih dahulu struktur dasar manajemen portofolio sebelum melangkah ke scaling agile penuh. Langkah bertahap ini justru mempercepat keberhasilan jangka panjang dibanding upaya "lompat langsung" yang berisiko gagal di tengah jalan.

Peran Governance dan PMO dalam Mendukung Scaling Agile yang Berkelanjutan

Peran Governance dan PMO dalam Mendukung Scaling Agile yang Berkelanjutan

Governance yang baik menjadi fondasi penting agar scaling agile tidak berubah menjadi kekacauan tanpa arah. Peran PMO (Project Management Office) dalam konteks ini bukan lagi sekadar administratif, melainkan sebagai strategic enabler yang menjembatani kecepatan eksekusi tim agile dengan kebutuhan pelaporan dan pengambilan keputusan di level manajemen puncak.

Transformasi PMO dari fungsi administratif menuju fungsi strategis inilah yang menjadi inti dari PMO LOTUS™, sebuah framework yang mengintegrasikan risiko, kapabilitas, dan performa organisasi untuk menghadapi kompleksitas proyek modern, termasuk kompleksitas yang muncul dari inisiatif scaling agile. Organisasi yang memiliki PMO dengan peran strategis semacam ini umumnya lebih siap menavigasi transisi menuju model kerja yang lebih agile tanpa kehilangan kendali atas governance dan akuntabilitas.

Membangun Kapabilitas Bertahap, dari Pilot hingga Enterprise-Wide Agility

Pendekatan bertahap terbukti lebih efektif dibanding transformasi menyeluruh yang dilakukan sekaligus. Perusahaan besar disarankan memulai dengan program percontohan (pilot) pada satu atau dua unit bisnis, mengukur dampaknya, kemudian memperluas secara bertahap ke unit lain berdasarkan pembelajaran yang didapat.

Tahapan ini sejalan dengan filosofi PMO Growth Path™, yang menggambarkan evolusi kapabilitas organisasi dari sekadar dukungan eksekusi proyek menuju penciptaan nilai strategis secara menyeluruh. Perusahaan yang menempuh jalur ini secara bertahap umumnya mampu membangun kepercayaan internal terhadap cara kerja baru, sekaligus meminimalkan risiko gangguan terhadap operasional yang sedang berjalan.

Pengembangan kapabilitas individu juga tidak boleh tertinggal dalam proses ini. Pelatihan bersertifikasi seperti Agile, Scrum, hingga PMI-ACP membantu memastikan setiap anggota tim memiliki bahasa dan pemahaman yang sama tentang prinsip agile, sehingga transisi menuju cara kerja baru berjalan lebih mulus dan terukur.

Menjadikan Scaling Agile sebagai Bagian dari Transformasi Kapabilitas Organisasi

Scaling agile perusahaan besar Indonesia pada akhirnya bukan sekadar proyek adopsi metodologi, melainkan bagian dari perjalanan transformasi kapabilitas organisasi secara keseluruhan. Framework yang tepat, kesiapan struktural, dan dukungan governance yang kuat harus berjalan beriringan agar hasilnya berkelanjutan, bukan sekadar tren sesaat yang meredup setelah beberapa bulan.

Avenew hadir sebagai project-driven organizational capability partner yang memahami kompleksitas ini dari dua sisi sekaligus, pengembangan kapabilitas manusia melalui Avenew Academy dan transformasi eksekusi organisasi melalui layanan konsultasi Avenew Indonesia. Kami tidak hanya melatih orang. Kami meningkatkan cara organisasi mengeksekusi proyek. Melalui pendekatan berbasis riset seperti yang dikembangkan dalam PMO LOTUS™, AVERYL Theory™, dan PMO Growth Path™, serta program sertifikasi seperti PMP, PMI-ACP, dan pelatihan Agile dan Scrum, Avenew membantu organisasi dan profesional membangun kapabilitas nyata dalam menjalankan strategi melalui proyek.

We don't just deliver training or consulting. We build the capability that enables organizations to execute strategy through projects. Jika Anda sedang mempertimbangkan langkah scaling agile di organisasi Anda, mari mulai dari asesmen kesiapan yang tepat bersama Avenew, agar transformasi yang dijalankan benar-benar membawa dampak jangka panjang.

https://avenew.co.id/contact-us