Jakarta, 17 September 2026 — Pertanyaan itu menjadi pembuka sesi Dr. Alin Veronika, S.T., M.T., CEO Avenew Academy, di AveXchange 2026. Dalam sesi bertajuk If Your PMO Disappeared Tomorrow, Would Anyone Notice? The X Factor That Makes a PMO Impossible to Ignore, ia mengajak seluruh PMO leader yang hadir untuk jujur menjawab satu hal, jika PMO mereka dibubarkan besok, apakah organisasi akan benar-benar kehilangan sesuatu, atau justru tidak menyadarinya sama sekali.

Dr. Alin membuka dengan menjelaskan mengapa PMO di banyak organisasi perlahan kehilangan posisinya. Ia menyebut empat penyebab utama, strategic misalignment yakni ketika mandate PMO tidak lagi mencerminkan prioritas organisasi, governance weakness yakni ketika wewenang dan akuntabilitas menjadi tidak jelas, capability limitation yakni ketika kapabilitas PMO tidak lagi memenuhi kebutuhan organisasi, dan failure to adapt yakni ketika operating model PMO tetap sama sementara organisasi terus berubah.

Ujung dari keempat kondisi ini, menurutnya, konsisten. PMO yang dibiarkan begitu direstrukturisasi, dimarginalkan, atau bahkan dibubarkan.

Membedah keberadaan dan dampak nyata PMO: Dr. Alin Veronika saat mempresentasikan "If Your PMO Disappeared Tomorrow, Would Anyone Notice?" di hadapan para peserta AveXchange 2026.
Membedah keberadaan dan dampak nyata PMO: Dr. Alin Veronika saat mempresentasikan "If Your PMO Disappeared Tomorrow, Would Anyone Notice?" di hadapan para peserta AveXchange 2026.

Dr. Alin menunjukkan kesenjangan yang menjadi akar masalah. Project management terus berubah, didorong kompleksitas yang meningkat, perubahan strategi, digitalisasi, banyaknya stakeholder, tekanan regulasi, hingga ekspektasi nilai yang makin tinggi. Namun di sisi lain, banyak PMO tetap bertahan dengan mandate yang tetap, pelaporan standar, orientasi kepatuhan, rutinitas yang stabil, dan fokus yang hanya berhenti di level proyek.

“Kondisi yang terus-menerus berubah yang memaksa PMO untuk harus bisa bertransformasi,” begitu ia meringkasnya di atas panggung.

Untuk memperlihatkan kondisi ini bukan sekadar teori, Dr. Alin membagikan hasil jajak pendapat langsung dari peserta AveXchange 2026 yang hadir hari itu. Lebih dari 60 persen peserta menyatakan organisasinya sudah memiliki PMO. Namun dari sisi kematangan, mayoritas berada di level developing (36,2 persen) dan basic (25,5 persen), sementara yang sudah mencapai established PMO baru 14,9 persen.

Dari sisi tantangan, peserta paling banyak menyebut ketiadaan pengukuran kinerja PMO yang jelas dan proses membangun atau mentransformasi PMO sebagai persoalan utama. Sementara itu, yang paling dicari para profesional PMO adalah kesempatan belajar praktik terbaik dan memperluas jejaring, disusul topik transformasi PMO dan pengembangan profesional.

Dari titik ini, Dr. Alin memperkenalkan PMO Lotus Framework, kerangka riset yang telah dihak ciptakan atas namanya sendiri.

PMO Lotus Framework

"PMO di Indonesia secara maturity masih berada di level initial/adhoc dan basic. PMO sudah ada, namun secara proses baru dijalankan sebatas fungsi-fungsi dasar. Namun pendekatan saya tidak berhenti di maturity saja, tetapi juga bagaimana PMO memiliki kapabilitas adaptif, yaitu kemampuan untuk sense ketika ada perubahan, menginterpretasi risiko, dan mengembangkan kapabilitasnya sendiri," ujar Dr. Alin.

Ia menambahkan bahwa PMO capability di Indonesia rata-rata berada di angka 2, cukup memenuhi namun masih bisa dikembangkan lebih tinggi, dengan performance and value management sebagai capability tertinggi. Dari temuan inilah ide X factor PMO lahir.

CEO Avenew Academy Dr. Alin Veronika memperkenalkan PMO Lotus Framework, kerangka riset terapan lima kapabilitas untuk mendorong transformasi dan adaptabilitas PMO di Indonesia.
CEO Avenew Academy Dr. Alin Veronika memperkenalkan PMO Lotus Framework, kerangka riset terapan lima kapabilitas untuk mendorong transformasi dan adaptabilitas PMO di Indonesia.

"PMO capability menjadi fondasi dasar untuk melakukan transformasi. Di sinilah saya perkenalkan PMO Lotus Framework, yang sudah dihak ciptakan dan memiliki lima capability untuk menentukan bagaimana PMO merespons kebutuhan organisasi," ujarnya.

Kelima kapabilitas tersebut adalah strategic alignment, governance and standardization, performance and value management, delivery support, dan capability development. Ia menekankan bahwa kelima kapabilitas ini tidak bekerja dengan cara yang sama. Governance and standardization serta delivery support tergolong kapabilitas operasional yang berkontribusi langsung pada stabilitas dan konsistensi delivery. Sementara strategic alignment, performance and value management, dan capability development tergolong kapabilitas strategis yang menjadi jalur menuju transformasi PMO.

"PMO bukan hanya dashboard keren dan project yang selesai tepat waktu dan tepat biaya. Ketika organisasi bertanya, project mana yang menjadi prioritas, project mana yang perlu didahulukan, di situlah lima kapabilitas tadi perlu ditransformasi. PMO harus mampu melakukan analytical and critical thinking, dan memonitor project mana yang harus diprioritaskan," ujar Dr. Alin.

Risiko sebagai Sinyal, Bukan Sekadar Ancaman

Bagian lain dari kerangka berpikir Dr. Alin adalah bagaimana ia memosisikan risiko, yang kemudian menjadi elemen inti kedua dalam AVERYL Theory, teori yang juga ia kembangkan sendiri. Baginya, risiko bukan hanya ancaman yang perlu dikendalikan, melainkan sinyal bahwa konfigurasi PMO saat ini mungkin sudah tidak lagi memadai.

Mengulas X Factor dan peran strategis PMO: Dr. Alin Veronika saat mempresentasikan materinya.
Mengulas X Factor dan peran strategis PMO: Dr. Alin Veronika saat mempresentasikan materinya.

Ia menggambarkan alurnya sebagai siklus yang berkelanjutan, dari environmental change yang memunculkan sinyal risiko baru, ke PMO capabilities yang menangkap sinyal tersebut, ke risk interpretation, ke PMO transformation yang mencakup people, process, dan tools, ke adaptive governance, ke PMO performance, hingga capability development yang kembali memperkuat PMO capabilities untuk siklus berikutnya.

"Capability dan risk, keduanya menjadi X factor bagi PMO. Capability menyediakan kemampuan kita untuk beradaptasi terhadap sinyal perubahan, sementara risk menyediakan sinyal kapan adaptasi itu dibutuhkan," ujar Dr. Alin.

Peluncuran Indonesia PMO Index 2026

Semua yang dipaparkan Dr. Alin di atas panggung, mulai dari alasan PMO kehilangan posisinya, lanskap yang berubah, hingga PMO Lotus Framework dan AVERYL Theory, bermuara pada satu momen puncak sesi hari itu, peluncuran Indonesia PMO Index 2026. Inilah riset nasional pertama yang mengukur kematangan, risiko, dan kesiapan transformasi PMO di Indonesia, dan menjadi bukti bahwa kedua kerangka riset miliknya bukan sekadar model konseptual, melainkan alat ukur yang sudah diuji pada skala nasional.

Dr. Alin turut memaparkan bagaimana posisi PMO Indonesia dibandingkan lanskap PMO global. Merujuk pada State of the PMO 2025 dari PM Solutions, ia menjelaskan bahwa perkembangan PMO secara global bergerak dari project administration, standards, reporting, dan control, naik ke portfolio governance yang menyediakan visibilitas proyek bagi eksekutif dan mendukung prioritisasi, lalu ke strategic value yang menyelaraskan proyek dengan portofolio organisasi beserta manfaat dan risk insight-nya, dan akhirnya ke organizational capability, yaitu pengembangan kapabilitas organisasi terkait project management, PMO, dan organizational learning.

"Secara capability, Indonesia berada di angka 2,19 dari 5,0, dan kita lebih kuat di operational capabilities dibanding strategic capabilities. Dari sisi transformasi, sudah mulai muncul, tetapi masih fragmented dan berfokus di operasional dan administratif," ujar Dr. Alin.

Dr. Alin Veronika menjelaskan model PMO Dual-Track (Stabilization Pathway dan Adaptation Pathway), kerangka hasil riset yang memetakan arah pengembangan kapabilitas operasional dan transformasi strategis PMO di Indonesia.
Dr. Alin Veronika menjelaskan model PMO Dual-Track (Stabilization Pathway dan Adaptation Pathway), kerangka hasil riset yang memetakan arah pengembangan kapabilitas operasional dan transformasi strategis PMO di Indonesia.

Sesi Dr. Alin di AveXchange 2026 ditutup dengan momen yang menjadi alasan seluruh paparannya disusun sedemikian rupa, peluncuran resmi Indonesia PMO Index 2026. Riset ini ditulis oleh Dr. Alin Veronika, S.T., M.T., PMP®, PMI-RMP®, PMI-PMOCP™, IPMO-P®, bersama Prof. Dr. Ir. Yusuf Latief, M.T., IPU. dan Leni Sagita Riantini, S.T., M.T., Ph.D.

Indonesia PMO Index 2026 menyebut kondisi PMO di Indonesia sebagai sebuah paradoks, di mana PMO sudah terbentuk namun masih sangat terbatas dalam kapabilitas. PMO sudah hadir sebagai unit formal di banyak organisasi, rutin menghasilkan laporan, dan menjalankan sejumlah prosedur, namun kehadirannya tidak serta-merta mencerminkan kapabilitas organisasi yang matang. Banyak praktik PMO masih bergantung pada pengalaman individu atau kebiasaan kerja setempat, bukan pada satu sistem PMO yang terintegrasi di seluruh organisasi.

Riset ini juga memperkenalkan istilah value leakage, untuk menggambarkan kondisi ketika PMO dibatasi hanya pada peran administratif. Menurut riset ini, organisasi dalam kondisi tersebut tidak sekadar kehilangan potensi keuntungan, melainkan terus-menerus kehilangan nilai setiap hari, ketika inisiatif yang seharusnya dihentikan tetap berjalan, dan gesekan operasional kecil berkembang menjadi krisis finansial yang lebih besar.

Secara statistik, Indonesia PMO Index 2026 mengidentifikasi tiga risiko struktural dengan skor dampak tertinggi terhadap kegagalan proyek, ketidakjelasan pendelegasian wewenang dengan skor 12,32 dari 15, jalur eskalasi yang tidak formal dengan skor 12,29 dari 15, dan ketiadaan mekanisme stage-gate formal dengan skor 11,73 dari 15, dengan fragmented change control turut tercatat sebagai risiko signifikan lainnya di angka 12,17 dari 15. Hasil pemodelan statistik dalam riset ini turut mengonfirmasi bahwa performance and value management risk merupakan faktor paling kuat yang mendorong organisasi melakukan transformasi PMO, dengan koefisien beta sebesar 0,360.

Dari temuan ini, Indonesia PMO Index 2026 merekomendasikan tiga langkah bagi Direksi dan jajaran C-Level, menjadikan PMO sebagai strategic gatekeeper dengan wewenang memvalidasi business case dan menghentikan inisiatif yang tidak selaras strategi, mengalihkan metrik keberhasilan PMO dari output ke outcome lewat Benefit Realization Management, dan melembagakan risk-driven governance, di mana sinyal risiko menjadi pemicu utama transformasi PMO.

Indonesia PMO Index 2026 kini dapat diakses secara terbuka melalui situs SCOPE, menjadikan riset yang menjadi dasar seluruh paparan Dr. Alin di AveXchange 2026 ini terbuka untuk dipelajari oleh setiap organisasi yang ingin tahu di mana posisi PMO mereka sebenarnya, dan apakah PMO itu benar-benar akan dirindukan jika menghilang besok.

Riset Indonesia PMO Index 2026 dapat diakses dan diunduh secara terbuka melalui situs web resmi SCOPE.
Riset Indonesia PMO Index 2026 dapat diakses dan diunduh secara terbuka melalui situs web resmi SCOPE.

Tentang Avenew

Avenew adalah perusahaan konsultansi Project, Program, and Portfolio Management yang berfokus pada pengembangan kapabilitas organisasi melalui Consulting, Training, serta Research and Innovation. Sejak 2013, Avenew senantiasa mendukung dan menjadi mitra transformasi berbagai organisasi dalam membangun kapabilitas proyek, program, dan portofolio yang lebih efektif untuk mencapai tujuan bisnis yang berkelanjutan.