Jakarta, 21 Agustus 2026 — Alin Veronika, CEO dan Founder Avenew Group sekaligus peneliti, penulis, dan praktisi Project Management dan Project Management Office (PMO), resmi masuk dalam daftar 10 Top Voices You Should Follow in Indonesia 2026 yang dirilis oleh NewInAsia.

Pengakuan ini diberikan atas kontribusinya membawa praktik dan standar project management ke konteks organisasi di Indonesia, termasuk kepemimpinannya selama tujuh tahun sebagai Presiden PMI Indonesia Chapter, sebuah perjalanan yang tumbuh dari pengalaman lebih dari dua dekade di bidang project management, dan dari satu perhatian utama yang terus ia bawa: bagaimana organisasi memastikan strategi tidak berhenti sebagai rencana, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi eksekusi dan nilai yang berkelanjutan.

NewInAsia, media yang merilis daftar 10 Top Voices You Should Follow in Indonesia 2026.
NewInAsia, media yang merilis daftar 10 Top Voices You Should Follow in Indonesia 2026.

Daftar 10 Top Voices You Should Follow in Indonesia 2026 sendiri menghimpun sepuluh profesional Indonesia dari berbagai bidang, mulai dari kecerdasan buatan, strategi bisnis, energi, keuangan, pendidikan, hingga transformasi organisasi. NewInAsia menilai para tokoh tersebut bukan hanya dari visibilitas mereka di ruang publik, tetapi dari perspektif yang dibangun melalui pengalaman nyata, apa yang telah mereka pimpin, bangun, transformasikan, atau teliti.

Membawa Project Management Melampaui Keberhasilan Proyek

Perjalanan profesional Alin berkembang dari dunia akademik dan riset menuju konsultasi, pengembangan kompetensi, serta pendampingan organisasi. Selama lebih dari dua dekade, ia terlibat dalam berbagai inisiatif project management pada sektor pemerintah, BUMN, konstruksi, transportasi, infrastruktur, dan perusahaan swasta.

Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa keberhasilan proyek tidak cukup dinilai hanya dari penyelesaian pekerjaan sesuai waktu, biaya, dan ruang lingkup.

Sebuah proyek dapat selesai, tetapi manfaatnya belum tentu tercapai. Sebuah program dapat dilaksanakan, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan organisasi. Demikian pula, sebuah PMO dapat memiliki metodologi, dashboard, dan laporan yang lengkap, tetapi belum tentu mempunyai pengaruh terhadap keputusan strategis.

Karena itu, menurut Alin, organisasi perlu mulai melihat project management sebagai bagian dari kapabilitas organisasi dalam mengubah strategi menjadi hasil.

Pandangan tersebut menjadi dasar positioning Avenew Group sebagai Project-Driven Organizational Capability Partner. Melalui Avenew, Alin mengembangkan pendekatan yang menghubungkan project management, tata kelola, pengembangan kompetensi, risiko, dan penciptaan nilai organisasi.

Mempertanyakan Kembali Peran PMO

Salah satu bidang yang paling konsisten dikembangkan Alin adalah transformasi PMO.

Di banyak organisasi, PMO dibentuk untuk menciptakan standardisasi, meningkatkan pengendalian, dan mendukung pelaksanaan proyek. Namun, ketika lingkungan bisnis berubah, PMO sering kali tetap menjalankan mandat dan cara kerja yang sama.

PMO akhirnya lebih dikenal sebagai pengelola laporan, jadwal, template, dan kepatuhan. Padahal, organisasi membutuhkan fungsi yang mampu membaca perubahan, mengenali risiko strategis, menghubungkan portofolio proyek dengan prioritas bisnis, serta membantu manajemen menentukan respons yang tepat.

Bagi Alin, persoalannya bukan lagi apakah organisasi membutuhkan PMO. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah PMO tersebut masih relevan dengan kebutuhan organisasi.

Profil Alin Veronika, CEO & Founder Avenew Group, dalam daftar 10 Top Voices You Should Follow in Indonesia 2026 yang dirilis NewInAsia.
Profil Alin Veronika, CEO & Founder Avenew Group, dalam daftar 10 Top Voices You Should Follow in Indonesia 2026 yang dirilis NewInAsia.

Pemikiran ini diperdalam melalui penelitian doktoralnya di Universitas Indonesia mengenai transformasi PMO berbasis risiko dan pengaruhnya terhadap kinerja organisasi. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa kapabilitas PMO tidak bekerja melalui satu jalur yang sama.

Kapabilitas operasional, seperti governance and standardisation serta delivery support, memberikan kontribusi langsung terhadap stabilitas dan konsistensi pelaksanaan proyek. Sementara itu, kapabilitas strategis, seperti strategic alignment, performance and value management, serta capability development, membutuhkan proses transformasi agar dapat menghasilkan dampak yang lebih luas bagi organisasi.

Temuan ini kemudian dikembangkan menjadi sejumlah kerangka pemikiran, termasuk PMO LOTUS Framework™, PMO Dual-Track Mechanism™, PMO Growth Path™, dan AVERYL Theory™.

Melalui pendekatan tersebut, Alin mendorong organisasi untuk melihat PMO bukan hanya sebagai fungsi administratif atau pusat kontrol proyek, tetapi sebagai sebuah adaptive governance system.

Dalam peran tersebut, PMO harus mampu memahami perubahan lingkungan, menginterpretasikan risiko, menyesuaikan tata kelola, mengembangkan kapabilitas, dan menjaga agar portofolio proyek tetap terhubung dengan strategi organisasi.

Risiko Bukan Sekadar Ancaman

Pendekatan Alin juga menawarkan perspektif berbeda mengenai risiko.

Dalam pengelolaan proyek konvensional, risiko umumnya dipahami sebagai sesuatu yang perlu diidentifikasi, dikendalikan, dan diminimalkan. Namun dalam transformasi PMO, risiko juga dapat berfungsi sebagai sinyal bahwa konfigurasi organisasi yang ada sudah tidak lagi memadai.

Ketidakselarasan strategi, lemahnya tata kelola, hilangnya potensi nilai, persoalan delivery, dan kesenjangan kapabilitas tidak selalu berdiri sebagai masalah terpisah. Keseluruhannya dapat menunjukkan bahwa PMO perlu ditinjau, disesuaikan, atau dikonfigurasi kembali.

Dengan cara pandang tersebut, risiko tidak hanya menjadi objek pengendalian. Risiko menjadi sumber informasi bagi organisasi untuk menentukan kapan transformasi perlu dilakukan dan kapabilitas apa yang harus diperkuat.

Menghubungkan Praktik, Riset, dan Pengembangan Profesi

Kontribusi Alin dalam project management tidak berhenti pada kegiatan konsultasi. Ia juga aktif dalam pendidikan, penelitian, penulisan, pengembangan standar, serta penguatan komunitas profesi.

Selama memimpin PMI Indonesia Chapter, Alin terlibat dalam perluasan ekosistem project management di Indonesia dan mendukung hadirnya pengetahuan global yang lebih mudah diakses oleh para profesional Indonesia, termasuk melalui penerjemahan PMBOK Guide ke dalam Bahasa Indonesia.

Sebagai pengajar dan peneliti, ia berupaya membawa persoalan nyata organisasi ke dalam kajian akademik. Sebaliknya, hasil penelitian tidak dibiarkan berhenti sebagai publikasi, tetapi diterjemahkan menjadi framework, instrumen asesmen, program pengembangan, dan pendekatan konsultasi yang dapat diterapkan organisasi.

Komitmen tersebut kini diperkuat melalui SCOPE, Strategic Center for Organizational Project Excellence, sebuah pusat riset di bawah Avenew Academy. SCOPE dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi akademisi, profesional, organisasi, dan industri untuk mengembangkan riset bersama mengenai project management, PMO, risiko, tata kelola, serta organizational capability.

Inisiatif ini mencerminkan keyakinan Alin bahwa tantangan organisasi Indonesia tidak dapat dijawab hanya dengan mengadopsi praktik global. Organisasi juga membutuhkan pengetahuan yang dibangun dari realitas Indonesia, didukung bukti empiris, dan diuji melalui kolaborasi antara dunia akademik dan industri.

Membangun Relevansi yang Berkelanjutan

Masuknya Alin Veronika dalam daftar 10 Top Voices Indonesia 2026 menjadi pengakuan atas perjalanan panjang tersebut. Namun, lebih dari pencapaian personal, pengakuan ini menunjukkan semakin pentingnya pembicaraan mengenai eksekusi strategi, tata kelola proyek, transformasi PMO, dan kapabilitas organisasi.

Di tengah tekanan perubahan teknologi, regulasi, ekspektasi stakeholder, serta tuntutan penciptaan nilai, organisasi tidak cukup hanya memiliki lebih banyak proyek. Organisasi membutuhkan kemampuan untuk memilih proyek yang tepat, menjalankannya dengan disiplin, mengelola risikonya, dan memastikan manfaatnya benar-benar terealisasi.

Di titik inilah Alin menempatkan project management dan PMO: bukan di belakang organisasi sebagai fungsi pendukung, tetapi di antara strategi dan hasil yang ingin diwujudkan.

Sebab bagi Alin, transformasi tidak diukur dari seberapa banyak perubahan yang dilakukan organisasi. Transformasi dinilai dari kemampuan perubahan tersebut dalam menciptakan nilai yang bertahan.

Tentang Avenew

Avenew adalah perusahaan konsultansi Project, Program, and Portfolio Management yang berfokus pada pengembangan kapabilitas organisasi melalui Consulting, Training, serta Research and Innovation. Sejak 2013, Avenew senantiasa mendukung dan menjadi mitra transformasi berbagai organisasi dalam membangun kapabilitas proyek, program, dan portofolio yang lebih efektif untuk mencapai tujuan bisnis yang berkelanjutan.